“Walaupun aku orang miskin, nggak mungkin aku harus selalu dibawah”
Sutardi, nama lengkapnya. Sosok yang selalu terlihat bersahaja ini ternyata bukan hanya sekedar mahasiswa biasa pada umumnya. Tapi ia termasuk orang yang berprestasi dibalik semua kekurangannya. Pria kelahiran Purworejo 17 Desember 1986 ini terlahir di keluarga yang bersahaja. Orang tuanya adalah seorang petani kecil, ketika ia duduk di kelas 5 SD, harus kehilangan ayah tercintanya yang meninggal dunia. Di usia belianya hidup tanpa didkan ayah yang dianggapnya sebagai pahlawan dalam keluarganya. Sejak itulah ibunya beralih menggantikan tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai pedagang gorengan dan kacang rebus yang biasa memulai kegiatannya dari jam 3 sore hingga jam 8 malam.
Dari kelas 4 SD hingga kelas 3 SMA, Tardi termasuk anak berbakat dan cerdas di usia sebayanya. Selalu mendapat beasiswa dari sekolahnya demi membantu meringankan biaya keluarga. Walau keadaan keluarga yang seadanya, tapi ia terus berusaha untuk membuktikan bahwa orang miskin juga berhak sekolah. Semangat itu yang tak lekang Tardi tanamkan dalam benaknya, bukan berarti keterbatasan dana untuk menuntut ilmu ia harus putus sekolah dan mengubur cita-citanya menjadi orang yang berhasil dikemudia hari. Pernah juga ia mendapat tawaran beasiswa dari UNDIP Semarang, namun ia tolak, alasannya karena hanya untuk satu semester. Selain itu, ibunya juga menginginkan Tardi untuk bekerja sebelum kuliah, menabung untuk keinginannya melanjutkan pendidikannya.
INSPIRATOR
Keadaan demikian tidak lantas membuat Tardi putus asa atau langsung menyerah, tapi justru membuat dia termotivasi untuk menjadi orang yang sukses. Di masa sekolahnya dulu, bungsu dari 6 bersaudara ini aktif dalam kegiatan OSIS, PMR, PRAMUKA dan juga ekstrakulikuler musik. Baginya melalui aktif di organisasi sekolah dapat melatih mental juga interaksi sosial dengan lingkungan. Kemampuan yang dimiliki juga tidak hanya dalam satu bidang saja, selalu ingin mencoba dan gigih dalam menjalaninya adalah sifat Tardi yang disenangi rekan-rekannya. Selain itu ia juga aktif mengikuti lomba-lomba, seperti lomba nyanyi dan lomba baca puisi yang sering digelar instansi pemerintahan maupun acara-acara pencarian bakat di daerahnya. Tak tanggung-tanggung ia berhasil meraih juara dua tingkat kabupaten dalam lomba baca puisi. Darah seninya juga mengalir kental dengan yakin akan kemampuannya.
Setelah lulus SMA, sekitar Desember 2005 pria yang mempunyai hobi mendengarkan musik sebelum tidur ini memulai perjalanannya dengan hijrah ke Jakarta beserta pamannya. Kini, ia tinggal di Rukan Permata Ancol yang juga tempat ia bekerja sebagai Accounting di tempat yang sama. Pria yang bercita-cita sebagai Akuntan dan guru ini bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga serta untuk biaya ia kuliah kelak. Dia tidak pernah merasa bosan, selalu rendah diri, ramah, supel pada rekan-rekannya. Tardi tidak pernah merasa putus asa akan situasi yang ia jalani, justru ia semakin kuat dengan berbagai kerikil tajam yang menghadangnya. Cobaan hidup menurutnya adalah sebuah proses yang harus dilalui setiap manusia, hasilnya tinggal dilihat apakah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak? Bisa memanfaatkan kesempatan untuk kebaikan itu merupakan hal yang sulit untuk dikendalikan. Ia juga seorang yang berambisi untuk mengejar impiannya dan berusaha mewujudkan cita-citanya serta membuat ibu dan keluarganya bahagia. “Walaupun aku orang miskin, nggak mungkin aku harus selalu dibawah,” ujar penyuka kembang kol ini.
Setelah sekitar 3 tahun Tardi bekerja dan menyisihkan uang untuk biaya kuliah. Kesabaran, kegigihan dan ketekunannya terkumpul di akhir Maret 2008, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Tidak pernah merasa malu jika bertemu teman sebayanya karena ia baru masuk kuliah di BSI, baginya tidak ada kata terlambat bagi menuntut ilmu dan mengejar cita-cita, asal ada semangat dalam perjuangan menggapainya itu semua dijalaninya tanpa beban. Jurusan Komputer Akuntansi di BSI Kramat 18, semakin menyakinkannya untuk mendalami bidang accounting yang sekarang ia geluti. Walau selama 3 tahun terakhir ia jauh dari dunia pendidikan, tapi Tardi masih termasuk orang yang cerdas di kelasnya. Keaktifan selama SMA juga ia jalani kembali dengan mengikuti kegitan teater sapulidi sebuah UKM Seni. Karena selain menyukai ilmu pasti, ia juga senang dengan seni, maka dari itu disela-sela kesibukannya, dia menyempatkan waktu untuk berlatih teater pada tiap hari minggu di kampusnya.
Menurut Yan, kawan teaternya mengatakan bahwa Tardi termasuk orang yang sangat baik dan perhatian pada teman-temannya. Selain itu, sifatnya yang mudah bergaul dengan teman baru membuat Tardi mudah disukai oleh orang yang baru dikenalnya. “Tardi tidak pernah mau merepotkan orang lain, orangnya selalu merasa nggak enakkan.. misalnya pulang tengah malam sehabis pulang latihan teater, dia selalu menolak untuk diantar ke rumahnya. Alasannya, rumah dia jauh nanti pulangnya kemalaman..” Ujar Chintya, salah satu kawannya. Hal yang paling disukai teman-temannya adalah rasa peduli Tardi terhadap sahabat-sahabatnya. Dia sering menasehati dan memberi solusi bila salah satu kawannya mempunyai masalah. Hal ini menjadikan ia dijuluki sosok ayah oleh kawan-kawannya. Ramah, santun dan supel yang paling dikagumi oleh orang-orang di sekelilingnya, bergaul tanpa memilih teman dan sangat iapun sangat menghormati wanita.
Ia memang tidak mempunyai waktu banyak dengan kesibukkan bekerja dari pagi hingga sore hari, lalu kemudian ia harus kuliah malam, belum lagi setelah setelah pulang kuliah, ia tidak langsung bisa istirahat apalagi main dengan kawan kampusnya, karena ia juga harus menyelesaikan pekerjaannya lagi hingga tengah malam. Dari waktu yang padat itu, ia masih bisa berprestasi di kampusnya, pada awal semester ia berhasil meraih IPK 3.82 dan mendapatkan hadiah komputer. Dan pada semester dua, dia mendapat IPK yang lebih besar yaitu 4, dan kini ia sedang mengurus besiswa untuk diajukan kepada pihak kampus di BSI. Baginya penghargaan berbentuk apapun yang diberikan bagi orang yang mau berusaha jumlahnya tak terhingga bila dinilai dari sebuah kepuasan dan keikhlasan. Bukan juga ia tekun belajar, bekerja dan membagi waktunya hanya demi mendapatkan hadiah-hadiah tersebut, tapi semua itu ia jalani demi harapan yang cahayanya semakin terang bila ada sebuah perjuangan yang gigih.
Ketika ditanya trik mendapat nilai besar, ia menjawab “Memperhatikan dan menghormati guru atau dosen, itu saja sudah”. Selain itu, pemilik tinggi 163 cm ini juga menambahkan bahwa niat, usaha dan kerja keras juga harus dilakukan. Hidup mandiri dan berprestasi, itulah yang terlihat pada sosok seorang Sutardi. Tujuan hidupnya adalah menjadi orang yang sukses dan dapat menjadi kebanggaan orangtuanya. Falsafah hidupnya adalah “Satukan langkah, untuk menggapai asa dengan langkah yang benar-benar pasti”. (Aisyah, Adang, Aneu)
Tags: BSI, kampus bsi, mahasiswa bsi, ukm bsi
![]() |
thanks yua sutardi mau berbagi kisah hidup yang sepertinya ga semua orang mau menceritakan kekurangannya,,tapi kisahmu itu bikin diriQ lebih bersemangat untuk lebih mensyukuri hidp,,mudah2an banyak orang yang belajar dan termotivasi yua,,heu….