Coba kita perhatikan semua yang kita gunakan sehari-hari, mulai dari baju, celana, sepatu, jam tangan, aksesoris, tas, kendaraan yang kita gunakan, laptop, handphone, hingga seperangkat alat make-up untuk wanita. Semua itu adalah kebutuhan sekunder manusia yang memang tidak akan bisa lepas dari kehidupan kita. Maka tidak akan mungkin terelakkan bahwa kita sangat ketergantunagan dengan barang-barang tersebut dan ketergantungan itulah yang membuat kita menjadi konsumtif. Tidak hanya itu barang-barang sekunder itu acapkali dijadikan adu gengsi di semua kalangan. Karena gengsi itulah apapun dilakukan mulai dari pakaian yang fashionable, kendaraan mewah, make-up yang berlebihan dan barang elektronik yang ter-up to date. Hanya beralasan gengsi kehidupan glamour seakan menjadi sebuah kewajiban. Tidakkah berlebihan mengutamakan sesuatu yang sifatnya hanyalah kebutuhan sekunder.
Bisakah kita hitung berapa banyak mal yang ada di Jakarta atau bahkan se-Indonesia. Tak sedikit anak-anak penerus bangsa yang sudah diajarkan untuk berefreshing di mal. Hasilnya adalah merekalah yang akan menjadi penerus konsumen berikutnya dan mungkin dengan sifat konsumtif yang lebih parah lagi. Perhatikan juga midnight sale yang sering diselenggarakan mal-mal, para konsumen rela mengantri hingga larut malam untuk dapat berbelanja menyalurkan nafsu mereka. Barang yang dibeli pun produk luar negri yang dianggapnya kualitas terbaik, bahkan produk dalam negri seakan dipandang sebelah mata. Tetapi lihat pula di tempat lain yang tidak jauh dari mereka, segelintir anak-anak miskin tidak bisa tidur karena perut mereka yang kosong. Jangankan mengantri di mal untuk membeli sepatu, sesuap nasipun seakan menjadi khayalan saja. Tidakkah keterlaluan,,walaupun uang yang digunakan untuk berhura-hura adalah hasil jerih payah sendiri, tetapi kita mempunyai kewajiban untuk membantu meringankan beban mereka karena kita hidup sebagai manusia bukan sebagai hewan yang membiarkan yang lemah itu mati dan yang kuat adalah yang bertahan.
Bukan hanya itu saja,dampak dari sifat konsumtif ini juga dapat menyebabkan pembodohan dikarenakan munculnya manipulasi kepuasan akibat dari konsumen yang menjadi korban iklan yang dibuat secara hiperbola yang menghipnotis konsumen agar seakan-akan barang yang diiklankan itu adalah kebutuhan yang tidak boleh tertinggal, ataupun korban sale yang rela mengantri untuk mendapatkan barang dengan harga special. Dan apabila para konsumen itu tidak mendapatkan barang dengan harga special ataupun barang yang diiklankan itu dia merasa rugi. Yang sebenarnya kerugian yang dirasa itu hanya sebatas ego saja. Oleh karenanya, sifat konsumtif ini mesti diminimalisir dimana kita bisa pintar memilih sesuatu yang lebih bermanfaat.
Tentu tidak ada salahnya jika kita menyukai sesuatu, merupakan hal yang sangat manusiawi. Tetapi tentu tidak baik juga jika kita menjadi budak dari nafsu kita sendiri. Mengapa kita tidak dapat berfikir terbalik? Mengapa kita tidak berfikir untuk menghasilkan sesuatu dibanding mendapatkan sesuatu? Artinya kita dapat bersifat produktif dan diantara sifat produktif dan konsumtif dalam diri kita dapat berjalan seimbang. Sehingga kita tidak menjadi manusia mandul yang tidak dapat menghasilkan sesuatu dan kita juga bisa menjadi manusia yang mandiri. Apabila kita dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai tentu akan menjadi kepuasan tersendiri yang tidak dapat dimanipulasi. Dan sesuatu yang bernilai itu tidak selalu dan tidak mesti berbentuk uang. Seperti halnya kita selalu mengeluh bahwa Negara kita ini terpuruk dan rakyat Indonesia semakin terhimpit kemiskinan, kita selalu bergumam bahwa para pejabat Negara tidak dapat bekerja dengan baik dan selalu mengecewakan. Tanah air ini milik kita kawan ,milik rakyak Indonesia tentu kitapun turut andil dalam pembangunan Negara ini agar menjadi lebih baik. Jadi, pernahkah kita berfikir tentang “ Apakah yang sudah kita berikan untuk Indonesia?” (Oleh: Milla Mozayani Mahasiswa Broadcast BSI)
Tags: BR BSI, Broadcast BSI, jurusan bsi, Opini, opini mahasiswa
![]() |
iya bener bgt tuh, padahal barang dalam negeri pun di ekpor ke luar, dan di bundling dengan harga yang tinggi. ironis, barang sendiri lebih dihargai diluar.
Empatiny dan pengamatan pd lingkungan di kasih jempol.. (: FB mode on)