Sosok tinggi kurus itu sangat mencolok di antara rekan-rekannya. Bukan karena penampilan, namun karena prestasi yang ditorehkan di ajang Eagle Award Film Documentery Competition (EA FDC) 2007 yang diprakarsai oleh InDoc bekerjasama dengan stasiun Metro TV.
Jastis Arimba, pria kelahiran 13 April 1984 ini berhasil menyabet 2 penghargaan dari 3 kategori yang dilombakan, yaitu Film Tebaik dan Film Favorit Pilihan Pemirsa lewat Film Dokumenter “Kepala Sekolahku Pemulung”.
“Untuk ide film ini sendiri diperoleh dari rekan saya, Victor yang memberikan sebuah majalah lusuh yang mengangkat profil seorang guru yang memulung. Namun ketika disurvei, bukan lagi guru yang memulung, tapi sudah menjadi kepala sekolah yang tetap memulung,” jelasnya penuh semangat. Film yang mengangkat realitas kehidupan seorang pendidik yang mempunyai kerja sampingan sebagai pemulung untuk menghidupi keluarganya di tengah kerasnya ibukota, ditambah lagi kebutuhan akan pengobatan sang Istri yang mengidap kangker otak. Bapak Mahmud hanyalah salah satu dari ribuan guru di tanah air yang harus berjuang ekstra menghidupi keluarga karena minimnya gaji yang diterima. Sudah puluhan tahun mengabdi dan mengajukan diri jadi pegawai negeri, namun tidak ada yang peduli. “Miris rasanya melihat seorang pendidik anak bangsa melakukan pekerjaan yang (sebagian orang) menganggap menjijikan. Namun itulah realitas bangsa ini yang tidak mempedulikan pahlawannya,” tanggapnya.
Keinginan mengikuti ajang bergensi ini terinspirasi oleh mantan Pemimpin Redaksi Inspirasi BSI, Weldi Handoko yang lebih awal berhasil menyabet penghargaan Editing Terbaik pada EA FDC 2006. “Banyak pengalaman dan motivasi yang diberikan Bang Well kepada saya untuk terus berkarya dan menyuarakan aspirasi melalui media apa saja, termasuk film dan tulisan,” sambungnya.
Mahasiswa semester akhir Broadcasting ini memulai karirnya dari kegiatan pers mahsiswa, yakni Inspirasi, yang dinilainya mampu memberikan peluang dan kesempatan di jurusannya. Benar saja, melalui aktifitas jurnalistik reportase, seminar, pelatihan dan event yang berbau film dan penulisan, Jastis menuai ilmu. “Sebagai seorang jurnalis kita banyak memperoleh kemudahan, salah satunya mengikuti kegiatan apa saja secara cuma-cuma. Kita tidak usah malu apalagi minder, karena ini kan kesempatan dan peluang,” ujarnya memberikan semangat.
Sebelum mengikuti EA, anak pasangan Azah dan Sri ini juga pernah mengikuti lomba penulisan di sebuah majalah berbasis pelajar dan mahasiswa dan berhasil lolos ke 10 besar yang hingga kini menjadi ladang kerja freelance-nya.
Dalam pengakuannya, kesempatan dan peluang itulah yang dimanfaatkan pria kelahiran Bandung tersebut untuk mengespresikan karyanya. Bersama dengan kesempatan yang didapat di organisasi adalah harga mahal sebuah pengalaman. “Kalau dulu saya harus mondar-mandir di setiap event kegiatan untuk meliput, sekarang teman-teman yang meliput saya,” candanya di sela-sela wawancara.
Direktur Utama Gumbira Barbershop ini juga menambahkan, “Ketika ada peluang jangan ditinggalkan, belajar dan manfaatkan kesempatan karena mungkin tidak ada kesempatan yang sama di lain waktu. Optimalkan segala potensi yang ada dengan semangat. Karena meskipun kendala dan keterbatasan menghadang pasti ada jalan keluar,” pesannya berapi-api.
Harapan ke depan, anak pertama dari lima bersaudara ini menuturkan dengan nada sumringah akan segera menikah di awal tahun 2008 dan dapat berkarya lebih banyak. Semoga selalu sukses, do’a kami menyertaimu. _*KND
Profile
Nama lengkap : Justis Arimba
Tempat tanggal lahir : Bandung, 13 April 1984
Pendidikan : D3, Broadcasting BSI
Status : Menikah
Nama Orang tua : Ari Juhartono dan Sri Azunani
Prestasi-prestasi :
- Film terbaik dan Film Favorit Pilihan Pemirsa“ Kepala Sekolahku Pemulung” di Eagle Award Competion 2007 MetroTV
- 10 besar, finalis penulisan artikel Majalah Flash 2007.
- Dokumenter pada JIFEST “BOT…PARABOT”
Pekerjaan :
- Wartawan Free lance majalah Flash
- Wartawan freelance majalah Peopple and Businnes
- Pembuat film freelance dan mandiri.
Anjari yang lebih akrab disapa Arie ini adalah salah satu aktivis yang cukup berpengaruh di BSI pada angkatan 1998.
Pria ini kelahiran Yogyakarta, 13 November 1975. Kalem khas wetan tapi tidak lantas terlihat ndeso. Berkaca mata dan selalu tampil sederhana, juga murah senyum. Mudahlah dikenali, dengan membaca pencirian tadi, siapa saja dapat langsung tahu bila bertemu sekalipun sebelumnya tidak pernah jumpa….
Di balik wajah yang teduh nan kharismatik, Anjari atau yang akrab disapa Arie itu ternyata mantan aktivis kampus yang telah banyak menjejakkan peran di BSI.
Dia termasuk salah satu aktivis yang cukup berpengaruh di BSI pada masanya. Orangnya sangat lantang berpendapat tentang pentingnya berorganisasi. “Berorganisasi itu sangat penting bagi kita, karena dalam organisasi kita mampu menggali potensi-potensi yang selama ini belum terlihat,” ujarnya saat ditemui Inspirasi di kediamannya di daerah Klender.
Saat menjadi mahasiswa, mantan ketua Pemuda Bulan Bintang ini termasuk orang yang cukup akrab dengan orang-orang yang ada di lingkungan akademis. “Waktu zaman saya kalau kita ingin menggunakan ruangan kelas, kita cukup telepon staf Pudir III dari ruang depan di bagian administrasi, dan langsung mendapat izin”, lanjutnya dengan raut muka bersemangat.
Selain pernah menjadi pemimpin redaksi di majalah Inspirasi, dia pun terlibat di beberapa organisasi kampus sekaligus. Sebutlah BADARIS, SEMA atau Himpunan Jurusan Manajemen Informatika. Bahkan logo atau lambang organisasi dari organisasi-organisasi tadi adalah besutan kreatifitas desainnya. ”Saat saya membuat lambang, saya buat tanpa berpikir lama, tapi ada juga dari teman-teman yang memberikan masukan” lanjut lelaki yang identik dengan potongan cepak.
Kini, Arie berstatus pegawai negeri di Departemen Kesehatan. Inilah bagaimana suatu disiplin ilmu bukan satu-satunya tiket untuk pekerjaan tertentu. “Ilmu apapun sebenarnya bisa diterapkan di mana saja. Sekarang menjadi trend di Depkes, pada saat penerimaan karyawan baru, banyak dibutuhkan lulusan komputer, karena eranya sudah komputerisasi,” tegasnya.
Suami dari Fitri Nurmeiwati yang dikenalnya saat sama-sama berorganisasi di Senat ini, menjelaskan bahwa organisasi di lingkungan kampus itu berbeda dengan organisasi politik. Menurutnya, “Organisasi kampus merupakan tempat belajar berorganisasi karena hanya pada saat menjadi mahasiswa saja. Mereka belum punya ideologi, belum mempunyai kepentingan, belum punya mimpi, sedangkan di kepartaian biasanya sudah mempunyai kepentingan dan mimpi yang sudah jelas.”
Lanjutnya, perbedaan atmosfir keorganisasian yang ada saat ini dengan masanya, sangatlah jauh berbeda. “Dulu lembaga sangat dekat dengan teman-teman yang ada di organisasi. Lembaga cukup khawatir kalau kita melakukan gerakan sendiri untuk perbaikkan kampus. Jadi setiap kebijakan yang akan dijalankan oleh lembaga, lebih dulu dibicarakan ke seluruh organisasi. Jadi hal tersebut merupakan bukti bahwa interaksi mahasiswa dengan lembaga kampus sangat dekat,” ceritanya berapi-api.
Pencetus AD/ART Senat AMIK dan IKBM BSI ini, adalah salah satu pendobrak kebijakan lembaga tentang mata kuliah COBOL yang waktu itu hanya diberikan materi tanpa dibarengi praktek. ”Saya waktu itu dibilang provokator yang mengajak teman-teman berunjuk rasa menuntut mata kuliah COBOL itu harus ada prakteknya, alhasil lembaga mengabulkan permintaan kita,” kenangnya.
Di mata dia, lambat laun kurangnya kesadaran mahasiswa dalam berorganisasi menyebabkan renggangnya hubungan lembaga dengan mahasiswa. Namun juga hal itu tidak lepas dari peran serta lembaga yang kurang merangsang mahasiswanya untuk terjun di organisasi. “Lembaga kurang merangsang mahasiswa untuk berorganisasi, kurang memfasilitasi tiap pelaksanaan organisasi, pelatihan ataupun event lebih banyak dilakukan oleh lembaga tanpa mengikutsertakan mahasiswa. Akibatnya, mahasiswa kurang memiliki peran di kampus. Akhirnya jadi kurang mendapat kesempatan belajar melobi, berorgansisasi. Padahal itu semua amat relevan dengan tuntutan di dunia kerja,” dia mengomentari keberadaan organisasi saat ini.
Pemilik motto hidup “Jalani hidup ini seperti air, dan berusaha untuk hidup lebih baik”, adalah salah satu pengusung JABSI (Jaringan Alumni BSI) yang berfungsi menjadi wadah para Alumni BSI dalam menjalin hubungan serta bertukar informasi mengenai lowongan kerja. Ketika pembentukan JABSI, sempat terjadi gesekan dengan himpunan lain yang lebih dulu ada dengan nama ILUBSI (Ikatan Alumni BSI). ”Pada akhirnya saya mendukung apa pun bentuk jaringan para alumni,” ujarnya pelan.
Karena pentingnya berorganisasi bagi para mahasiswa, tak lupa Arie memberikan tipsnya agar dapat berorganisasi secara efektif. Yang antara lain (1) tidak menentang hukum alam- dinamis, (2) praktekan saja, (3) kesadaran berorganisasi yang berasal dari diri sendiri, rangsangan dari sekitarnya dan (4) saya yakin bila orang yang berorgansisasi, di luar kampus mereka lebih merasa menikmati manfaat organisasi di kampus.
Dari perjalanan seorang aktivis seperti Arie, semoga kita semua belajar tentang pentingnya ilmu di luar ruang belajar kita ini, yaitu organisasi. “Dengan seluruh pengalaman yang kita dapat di dalamnya, kita dapat menjadi orang yang mampu membaca situasi. Bahkan dapat berperan secara nyata pada lingkungan di manapun kita berada,” pesannya seraya mengakhiri percakapan dengan tim Inspirasi. (dicky)
“Tak akan menjadi miskin karena sedekah. Tak akan menjadi bodoh karena berbagi ilmu. Tak akan mati karena berpuasa.” Ketiga hal di atas, terutama dua hal pertama, diyakini betul oleh para pendiri lembaga pendidikan Bina Sarana Informatika (BSI), yakni Herman P Harsoyo dan Naba A Notoseputro. ”Karena itu, kami berupaya betul mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar-mengajar di BSI,” kata Naba Aji Notoseputro, yang diamanahi sebagai Direktur BSI. Alumnus S1 IPB dan S2 Unpad Bidang Studi Hukum Bisnis itu sangat meyakini bahwa salah satu kunci sukses BSI hingga berkembang pesat seperti saat ini adalah sedekah. ”Sebanyak 2,5 persen dari seluruh mahasiswa kami mendapatkan beasiswa full dari masuk sampai tamat kuliah. Jadi, kalau di sebuah kampus BSI ada 1.000 mahasiswa, maka 25 orang di antaranya kuliah gratis. Selain itu, ada pula yang mendapatkan beasiswa 50 persen dari total biaya. Jumlah mereka ada sekitar lima persen,” ujarnya. Siapa saja yang berhak memperoleh beasiswa tersebut? ”Mereka yang secara ekonomi kekurangan, tapi mempunyai semangat belajar yang tinggi untuk maju. Terutama, para remaja di lingkungan kampus BSI tersebut berada, serta keluarga atau sanak famili dosen, office boy, satpam, maupun karyawan BSI lainnya. Jadi para dosen atau karyawan BSI itu juga bisa membantu keluarga atau sanak familinya agar bisa menikmati pendidikan tinggi,” tutur suami dari Endah Nurcahyati itu. Dari sisi berbagi ilmu, Naba mengatakan sejak awal BSI dikembangkan dengan tujuan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat untuk menimba ilmu di bangku kuliah. ”Sejak awal mendirikan BSI lebih 15 tahun silam, kami bertekad mengembangkan lembaga pendidikan yang terjangkau oleh sebanyak mungkin anggota masyarakat dari berbagai strata, khususnya masyarakat menengah ke bawah,” papar ayah tiga anak itu. Hal itu, kata Naba, dilandasi oleh pemikiran bahwa salah satu jalan tercepat untuk mengangkat harkat dan martabat hidup masyarakat menengah ke bawah di Indonesia adalah dengan pendidikan. ”Kalau mereka bisa kuliah dan meraih gelar sarjana, mereka lebih punya peluang untuk mengangkat derajat hidupnya dan keluarganya, antara lain lebih mudah mendapatkan akses pekerjaan,” ujarnya. Karena itu, BSI menerapkan biaya kuliah yang terjangkau oleh masyarakat. Saat pertama kali dibuka, BSI mematok biaya kuliah Rp 600 ribu per semester. Kini, setelah 15 tahun, biaya tersebut masih di bawah Rp 1.000.000, tepatnya Rp 980 ribu per semester. Artinya hanya naik Rp 380 ribu. Kalau angka inflasi dihitung rata-rata 10 persen per tahun, berarti sudah mencapai 150 persen. Sedangkan kenaikan biaya kuliah di BSI tak sampai 60 persen dalam 15 tahun. ”Meskipun hanya naik Rp 380 ribu dalam 15 tahun, alhamdulillah BSI bukannya mengecil, justru membesar,” ujarnya. Bermula dari sebuah ruko di Depok, kini BSI telah memiliki kampus di 44 lokasi di seluruh Jawa dan Kalimantan. BSI memiliki enam akademi dan 16 jurusan. Jumlah mahasiswanya tidak kurang dari 40 ribu orang. Jumlah mahasiswa barunya rata-rata 15 ribu orang per tahun. Bangunan dan fasilitas kampusnya makin berkembang. Karyawannya tidak kurang dari 1.500 orang. ”Semua itu bisa terwujud berkat kiat-kiat manajemen dan ridho Allah SWT,” ungkapnya. Pengalaman tersebut makin memantapkan keyakinan Naba, bahwa sedekah itu memang berkah luar biasa. ”Allah SWT dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah itu akan berbuah kebaikan dan keberkahan yang amat besar. Kami di BSI sudah membuktikannya,” tandasnya. Karena itulah, pihaknya bertekad untuk terus mempertahankan biaya kuliah yang terjangkau di BSI. ”Kami juga bertekad untuk terus berbagi kepada para mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu atau kurang mampu berupa beasiswa 100 persen maupun 50 persen. Kami yakin, tak akan kita miskin karena sedekah. Sebaliknya, justru kita akan makin kaya, baik lahir maupun batin,” papar Naba Aji Notoseputro. (Republika.co.id) Biodata Nama : Naba Aji Notoseputro Pendidikan : S1 IPB, S2 Unpad Bandung, Studi Hukum Bisnis Jabatan : Direktur BSI Nama Istri : Endah Nurcahyati Putra/putri : 1.Radifan Cakra Aji, 2.Ravina Artimizia Aji, 3.Ravenza Maverick Aji
![]() |