Jadi mahasiswa tidak mudah. Sebab, itu bukan sekadar sebutan bagi mereka yang punya kartu mahasiswa, melainkan mestinya juga diiringi daya kritis, mandiri dan mampu menyikapi berbagai hal dengan cara yang santun.
Namun realitas menggambarkan lain. Banyak perilaku mereka yang tidak mencerminkan layaknya mahasiswa yang sesungguhnya. Seperti, minum minuman keras di tempat umum, berkumpul layaknya geng pasar sambil menikmati isapan putaw di kampus. Bahkan yang cukup tragis dan memilukan, yakni tauran antarkelompok dalam satu kampus maupun dengan beda kampus. Padahal mereka sama-sama menyandang status mahasiswa.
Dan sejatinya adalah orang terhormat karena tingkat keilmuannya, sikapnya yang lebih dewasa, penuh logika dan biasanya cenderung lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Bahkan ketika melihat masyarakat tertindas oleh kebijakan penguasa, biasanya mahasiswa dengan cepat menolak, menuntut pembatalan, atau revisi atas keputusan yang tak populis itu.
Tapi kini, tindakan kepedulian sosial seperti itu cukup sepi. Minyak tanah langka, minyak goreng serta beras mahal pun kurang mendapatkan perhatian dari mahasiswa. Tak mengherankan masyarakat sering bertanya, apakah mahasiswa sekarang tertidur lelap atau sudah tidak peduli lagi dengan rakyat kecil?
Pertanyaan seperti itu sangat wajar. Pasalnya, sejarah mencatat mahasiswa-mahasiswa terdahulu dikenal sebagai advokasi rakyat. Juga tidak jarang, rela jadi korban bui maupun jiwa untuk membela rakyat. Buktinya, Elang, mahasiswa Trisakti, dan kawan-kawannya rela korbankan jiwa demi sebuah cita-cita perubahan dari tiran Orde Baru menjadi negara yang demokratis seperti sekarang ini.
Jangan sampai semangat membara milik Elang itu hilang begitu saja dalam ingatan. Teruslah diingat dan jadikan pemecut semangat untuk meneruskan perjuangan mulia hingga membuahkan hasil nyata pada 250 juta jiwa lebih rakyat Indonesia. Artinya, sebagai mahasiswa tetaplah semangat dan berjuang sampai rakyat benar-benar merasakan kesejahteraan dari uluran tangan negara.
Perjuangan yang dimaksud tidak hanya melalui pergerakan-pergerakan layaknya demontrasi, tapi juga bisa dilakukan dengan cara yang dingin. Baik melalui sumbangsih pemikiran, berbakti lewat yayasan, maupun terjun langsung ke ranah birokrasi dengan catatan bertujuan menciptakan undang-undang yang benar-benar memihak pada kepentingan publik. Dengan kata lain, bagi mahasiswa yang kelak menjadi pejabat publik, jangan pernah tergoda berahi kekuasaan. Jangan sampai larut dalam KKN sebagaimana yang dilakukan oleh kaum akademisi kita yang sekarang mendekam di tahanan karena kasus korupsi.
Kalaupun nasib tidak memihak kita sebagai pejabat publik sehingga tidak bisa mengubah kebijakan, paling tidak ciptakan lingkungan tempat kita tinggal bebas kontaminasi preman, teroris dan narkoba. Rangkullah para pemuda dengan cara bertukar pikiran atau mentransformasikan ilmu tentang ketertiban sosial. Karena, itu salah satu ciri mahasiswa yang baik.
* Dewan Redaksi Inspirasi, kini bekerja di Majalah IT GADGET
* Ini salah satu tulisan dari tujuh karya warga majalah kampus BSI INSPIRASI yang dipublikasikan di Media Indonesia, Selasa, 21 Agustus 2007
Tags: BSI, mahasiswa bsi
![]() |