Portal Berita dan Informasi Mahasiswa BSI | Persma BSI logo

Cerita Pendek: “Butterfly from Heaven” karya Any Suryani BSI

By Danang Wahyudi on Monday, 28th December 2009 Cerita Pendek: “Butterfly from Heaven” karya Any Suryani BSI thumbnail

“Are you sure with this ?” Adzka menatap wajah Rima ragu. “It’s impossible.” Ia mengacungkan kertas pemberian Rima seperti tak berharga. Padahal dia telah menghabiskan banyak uang untuk mendapatkannya. Bahkan dengan menyewa Rima, detektif kampus yang terkenal valid dalam setiap kasusnya.
“Do you know about his father ?”

“Yeah, but it’s the real. Dia menghabiskan waktunya disana sepanjang minggu, seolah penghuni tempat itu adalah keluarga keduanya.” Rima mencoba memberi Adzka penjelasan. Tapi Dia masih tetap tak percaya, terlebih jika mengingat Rakha adalah anak semata wayang dari pemilik yayasan tempatnya kuliah.
“Aku nggak percaya.” Adzka keukeuh, dilemparnya kertas berisi curriculum vitae Rakha begitu saja.
Rima yang melihatnya tak terima, “Terserah lo deh Ka, tapi gua ingetin ya, suatu saat nanti lo pasti bakal nyesel nggak percaya sama gua.” Ia berbalik. Napasnya turun naik nggak karuan, seumur-umur jadi detektif baru kali ini dia nemuin klien model Adzka. “Untung dia udah bayar gua.” Dalam gerutunya Rima masih bisa bersyukur.

Sepeninggalnya Rima, Adzka tersenyum. Ia memang tak butuh kertas itu, karena semua catatan yang Rima buat mengenai Rakha telah ia hapal di luar kepala. Bangun sebelum adzan subuh dilanjutkan salat berjamaah di mesjid samping rumahnya, lalu mandi mungkin sarapan dan siap-siap berangkat ke kampus sekitar pukul 08.00 WIB sampai selesai. Sorenya Rakha tak langsung pulang, ia pergi ke tempat yang sedari tadi jadi bahan keributan antara Adzka dan Rima. Rima bilang, Rakha bisa menghabiskan waktu disana seharian dan pulang sebelum larut. Ini yang membuat Adzka tak percaya, mana mungkin Rakha yang di kampus terkenal borju bisa berhubungan dengan kaum terpinggirkan seperti yang Rima katakan.

“Aku harus membuktikannya.” Gadis itu mengepalkan tangannya penuh gairah. Semangat sekali kelihatannya.
***

Langit Jakarta sore itu pekat dan kelam. Awan kelabu berarak ditiup riuh angin yang juga menampar pepohonan hingga bergoyang kesana kemari. Belum-belum hujan turun, jalanan yang Adzka lewati sudah becek dan kotor. Gunungan sampah dimana-dimana membuat perutnya mual, bau tak tertahankan. Sejak pagi ia sudah membututi Rakha, mulai dari pergi ke kampus menunggu di pelataran kelasnya, masuk, belajar, ke kantin dan keluar dari kampus sekitar pukul dua. Seperti yang dikatakan Rima kemarin Rakha tak langsung pulang, ia membawa mobilnya kesini. Ketempat yang membuat Adzka tak percaya dan hampir menggagalkan rencanya untuk mendekati Rakha. Tempat orang-orang terpinggirkan yang populasi anaknya lebih cepat melonjak setiap tahun. Bagaimana tidak di tempat seperti ini jarang sekali ada hiburan, tv saja tidak semua rumah punya, of course… hiburan satu-satunya dalam keluarga adalah yang satu itu. Hingga seorang istri disini rata-rata melahirkan satu anak setiap tahunnya.

Adzka tertegun sebentar, walau bau begitu menusuk hidungnya. Rakha tengah berdiri tak jauh darinya. Seorang anak berusia tak lebih dari lima tahun tengah merajuknya. Entah apa yang anak itu pinta, tapi cukup jelas bagi Adzka untuk melihat adegan berikutnya yang menuntut Rakha untuk menggendong anak itu. Mengejutkan bagi Adzka karena anak itu dekil dan kotor. Pakaiannya compang-camping, di tangan mungilnya terselip kicrik yang biasa dipakai pengamen.

“Oh, no !” Adzka mengucek matanya berkali-kali. “Rakha and poor ? What happen with them ?” seru Adzka dengan suara cukup keras.

Rakha tersentak, ia membalikan tubuhnya melihat si empunya suara. Adzka belingsatan, ia ingin kabur tapi tak sempat. Malu rasanya kepergok seperti itu.

“Adzka ?” Rakha mendekati Adzka penasaran, “Sedang apa disini ?”
“Eh…Umm, Rakha ? kirain siapa ? hehe, anu gua lagi…umm… nyari toilet, yah nyari toilet.” Jawabnya gelagapan. Tapi ia tidak bohong, saat itu ia memang kebelet.

“Toilet ?” Rakha merenyitkan dahinya. Yang benar saja, gadis seperti Adzka sengaja turun ditempat seperti ini hanya untuk mencari toilet. Rakha menggelengkan kepalanya mengusir dugaan-dugaan negative dalam pikirannya.

“Dimana Rakha ?” Tanya Adzka tak tahan.
“Oh…” Rakha terperangah, “Ya, biar gua antar lo ke bas camp. Ayo ikut gua !” Ajaknya tanpa menurunkan bocah tadi dari gendongannya.

Rakha masuk ke sebuah ruangan dari triplek yang kecil dan sumpek. Ia berjalan terus kedalam, tepat di ujung ia berhenti dan menyuruh Adzka untuk masuk kesana. Keruangan yang katanya toilet tapi lebih seperti sarang kecoak karena baru saja melangkah Rakha sudah di kagetkan dengan jeritan ketakutan dari Adzka.
“Maaf ya Ka, disini ya begitu toiletnya.”

“Hmmm,” Adzka senyum terpaksa, “Ngga apa-apa kok Rakha, gua tadi Cuma kaget aja.”
Fuaaaah…

Adzka menarik napas lega. Ia keluar dari toilet dengan perasaan campur aduk antara percaya dan tidak sosok yang ia buntuti sampai di tempat kumuh seperti ini adalah Rakha. Seorang yang telah membuatnya tak nyenyak tidur, tak enak makan, dan membuatnya mabuk kepayang selama beberapa bulan terakhir. Rakha yang anak ketua yayasan dimana ia kuliah, yang kaya raya melebihi dirinya, yang jadi inceran banyak gadis, yang…duuh…

“Rakha,” Pelan-pelan Adzka berjalan ke arah Rakha sembari memperhatikan sekitar ruangan. Di tempat itu tak ada kursi ataupun meja. Semuanya di biarkan kosong hanya ada karpet dari jerami dan white bord lengkap dengan spidol dan penghapusnya. Diatas karpet itulah Rakha sedang di kerumuni oleh bocah-bocah kecil yang dekil dan baunya bisa tercium radius 5 meter. Adzka tak berlebihan, karena memang nyatanya anak-anak itu kotor dan bau. Dia bahkan tak berani mendekat jika saja bukan Rakha yang memintanya.
“Kenapa Ka, bingung ya ngeliat gua ada disini ?” Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tapi bagi Adzka itu kalimat mukjiat, kalimat pertolongan, karena ia tak perlu mencari-cari timing yang pas untuk menghilangkan rasa penasarannya. Adzka tersenyum berusaha menyamarkan rasa ingin tahunya, “So what ?”
Rakha menarik napas dalam-dalam. “This is my Heaven, and they are my butterflies from there”
“What did you say ? I don’t understand.” Adzka menggelengkan kepalanya tak mengerti. “Mereka itu miskin Rakha ? Apa hubunganya dengan surga ?”

“Ayo, ikut gua !” Rakha menarik tangan Adzka. Ia mengajaknya kepojokan rumah untuk menaiki tangga. Adzka tak kuasa menolak walau sebenarnya ia takut kalau-kalau dirinya jatuh dan terpeleset.
“Lihat !” Rakha menunjuk sesuatu dengan tangan kanannya. Mereka sekarang berada di atap rumah yang dibiarkan tanpa genting, seperti berada di atas gedung walau kaki-kaki mereka bisa dipastikan hanya menginjak kayu.

“Rainbow,” Adzka terpana. Hujan masih menyisakan gerimis, dan pelangi itu hadir menyemarakan suasana. Indah sekali, kontras dengan lingkungannya yang kumuh dan tak bertata.
“Lo beruntung Ka, datang saat hujan kayak gini. Lo bisa lihat pelangi yang indah itu dari sini.” Rakha berseru. “Lihat pertunjukan berikutnya !” Ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sesuatu.
“Itu kan toples kue ?”
“Lihat saja,” Rakha memamerkan sederet gigi putihnya. Ia membuka tutupnya, dan… surprise ! Beberapa kupu-kupu terbang keluar, warna-warni, indah dan menggemaskan.
“So wonderful !” Adzka berputar kegirangan, tapi tak lama karena kupu-kupu itu terbang menjauhinya. They go to sky, mengawang di langit menuju pelangi. Adzka kecewa, Tuh kan…kupu-kupu aja ngga betah disini. Pikirnya sembarangan.

“Mereka terbang menuju pelangi yang mengantarkan mereka ke surga.” Rakha kembali berseru, “Tempat mereka memang bukan disini, Adzka. Tapi dari sinilah asal mereka lewat metamorfosis Tuhan yang indah. Anak-anak itu mungkin tak nampak keindahannya di mata lo, tapi di mata gua mereka itu memiliki kebebasan seperti kupu-kupu. Mereka berasal dari Surga dan akan ngajak gua kesana bersamanya.Lihat kerumunan mereka di ujung jalan sana !”

Adzka mengalihkan pandangannya mengikuti telunjuk Rakha. Disana nampak anak-anak jalanan sedang bernyanyi di perempatan lampu merah.

“Andai orang-orang dalam mobil itu tau hanya uang yang disisihkan lewat tangan itulah yang akan dicatat malaikat sebagai amal kebaikan, mereka pasti sependapat sama gua kalau anak-anak jalanan yang kumuh dan kotor itu butterfly yang akan mengantar mereka ke Surga.”

“Iya,” Adzka menyetujui kalimat Rakha, “And God gives me you, to be my butterfly from heaven.”
“Kenapa ?”
“Karena lo yang membuka mata gua untuk menyadari semua itu.” Adzka meraih tangan Rakha dan menggengamnya erat. Rakha tak menolak, ia hanya bisa tersenyum pasrah dan menikmati kebersamaannya dengan Adzka, seseorang yang akan menemaninya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. (Any Suryani)

  • Share/Bookmark

Tags:


READERS COMMENTS (0)

RELATED NEWS

LATEST HEADLINES

Cara Pembayaran Kuliah STMIK Nusa Mandiri (NURI) thumbnail

Cara Pembayaran Kuliah STMIK Nusa Mandiri (NURI)

Cara pembayaran kuliah STMIK Nusa Mandiri melalui ATM Bank Mandiri berubah, perubahan terjadi pada Kode Institusi dan NIM Mahasiswa.
KREMASI 4 : Kreasi Senat Mahasiswa KramBa thumbnail

KREMASI 4 : Kreasi Senat Mahasiswa KramBa

KREMASI “Kreasi Mahasiswa BSI” adalah event tahunan yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Kramba (Kramat-salemba) sejak tahun 2005
Get On top Climbing Competition Java Island thumbnail

Get On top Climbing Competition Java Island

Bertepatan dengan hari jadi BSI yang ke 22th, Calandra berkesempatan untuk menyelenggarakan acara kompetisi panjat tebing yang sudah lama dinanti oleh para climber muda.
Dapatkan Segera Majalah Inspirasi Edisi Juni 2010 thumbnail

Dapatkan Segera Majalah Inspirasi Edisi Juni 2010

Di edisi kali Inspirasi tampil beda, karena kami mengundang sobat semua untuk bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa. Dengan mengirim formulir pendaftaran yang ada di majalah inspirasi edisi Juni 2010 ke sekretariat kami.
BSI Career Fair Jakarta 2010 thumbnail

BSI Career Fair Jakarta 2010

Dengan mengusung Tema bertajuk “Solusi Cerdas menyongsong Karier Gemilang” BSI Career Fair merupakan media tepat sebagai pusat pasar kerja bagi pemberi kerja dan Pencari kerja.
Sejuta Aksi untuk Palestina thumbnail

Sejuta Aksi untuk Palestina

1 juni 2010 ratusan mahasiswa yang tergabung dalam forum silaturahmi lembaga dakwah kampus atau FSLDK se-Jabodetabek menggelar aksi damai guna mengutuk serangan keji oleh tentara israel