diantara kegiatan hari libur itu, kondangan. dua malam yang lalu saya memenuhi undangan tetangga yang sedang melaksanakan aqiqah bagi putrinya. ada yang menarik dari hikmah aqiqah yang disampaiakan oleh seorang habib muda. ini bukan karena habibnya, karena memang saya tidak punya rasa fanatik terhadap golongan manusia tertentu. salah satu tausiahnya yang menarik perhatian saya ketika mengungkapkan banyak anak banyak rezeki.
ini buat yang masih muda-muda. segeralah menikah. jangan takut. karena menikah itu bikin kaya. dan salah satu tujuan menikah itu adalah keturunan. maka jangan ragu perbanyaklah keturunan, karena kita tidak tahu dari mana pintu rezeki allah itu diturunkan. kalau sekarang sudah beranak 2 tetapi hidup masih seret, tambah 1 lagi. siapa tahu anak ke-3 membawa rezeki lebih. kalau sudah tambah anak menjadi 4 belum juga lancar, tambah 1 lagi. insya allah!. ya kalau sampai 5 juga masih seret, mungkin perlu dipertimbangkan tambah bini. **halah**
ya kira-kira begitu katanya. dengan gaya betawi yang kental memberi hikmah aqiqah. tentu saja diselingi dengan humor segarnya. kalau menyangkut tambah bini, saya tidak tahu apakah itu becanda atau serius. untuk lebih meyakinkan, sang habib bercerita tentang salah satu santri-nya. konon, ketika masih mempunyai anak 3, santrinya itu hidupnya pas-pasan saja dengan membuka warung rokok di pinggir jalan. namun setelah kelahiran anak ke-4 seakan rezekinya sangat lancar. terkhir bertemu dengan habib, si murid sedang menggarap proyek senilai 65 milyar.
benar tidaknya cerita itu, tentu bukan menjadi hal yang substansi. banyaknya banyolan, humor dan selingan diantara tausiah yang disampaikan habib muda itu, ada hikmah yang dapat diambil. pertama, keberanian menikah. tak sedikit manusia dewasa yang masih ragu menikah, tatkala banyak anak muda dengan berani mengambil sikap menikah muda. tak terhitung orang yang takut membuat komitmen, mengikatkan janji dengan pasangannya dalam ikatan suci pernikahan. tentu banyak pula hal yang dipertimbangkan. dan mayoritas mengatakan belum siap. pertanyaannya kapan siapnya? saya pernah memposting kawinlah selagi muda yang menceritakan keberanian yunior-yunior saya menikah disaat umurnya masih belia.
hikmah kedua, jangan takut miskin karena banyak anak. saya sengaja membalik makna yang terkandung dari ungkapan klasik populer, banyak anak banyak rezeki. banyak orang ragu menambah keturunan karena takut tak mampu menafkahi. apalagi di zaman serba susah serba mahal seperti sekarang ini, begitu kilahnya. dalam batin saya bertanya, kapan orang tidak bilang, zaman tidak susah. semua orang bilang zaman lagi susah. dan setiap zaman, orang pasti bilang “lagi zaman susah”.
teringat kata-kata yang sering saya dan istri dengar melihat kami mempunyai empat putri. banyak kawan yang bilang, “wah kejar setoran ya?”. saya menjawab,“alhamdulillah”. namun ada tak sedikit yang bilang,”subhanallah, antum beruntung sekali akhi!. ana kalah”. lagi-lagi saya bilang,“alhamdulillah”. ada lagi yang ngomong,” ihhh, banyak amat sih. bagi-bagi dong!” begitu katanya sambil nyubit satu persatu pipi putri saya yang memang menggemaskan. dan yang paling bikin nggondok kalau ada yang bilang,”wah masih penasaran ya. belum dapat anak cowok?“. tapi tetap saja saya berusaha menjawab,” alhamdulillah” sambil membatin, memangnya mampu kita memilih, anak laki atau anak perempuan. saya kok termasuk orang berfaham bahwa jenis kelamin anak kita bukan wilayah manusia untuk menentukan.
dalam konteks banyak anak banyak rezeki, mungkin ada yang bertanya apakah saya termasuk orang kaya dengan empat anak perempuan itu. apakah rezekinya sangat lancar. apakah termasuk keluarga yang berkecukupan. sebelum saudara tanya, lebih baik batalkan niat itu. karena saya tentu akan menjawab,“alhamdulillah”. itu belum tentu berarti saya mengiyakan atau menolak. karena saya juga belum pernah mendengar, ketika ditanya apakah seseorang termasuk orang kaya, kemudian orang itu dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa dia orang yang kaya. kecuali memang orang itu manusia yang super duper percaya diri berlebihan. atau sombong malah!.
saya hanya mau katakan, selalu ada kemudahan. selalu ada momentum dimana semuanya menjadi lebih mudah dan lebih indah setiap kali putri saya lahir. sesuatu yang kadang terlihat seperti kebetulan. atau ketidaksengajaan jika dinilai dari akal logika manusia. saya tentu jauuuuuuhhhhhh sekali dikatakan sebagai keluarga kaya diukur dari kelayakan hidup orang jakarta atau kota besar lainnya di indonesia bahkan di dunia. tetapi harus disyukuri saya juga tidak termasuk penerima raskin, jamkesmas, bantuan langsung tunai bahkan fakir miskin dan anak terlantar yang harus dipelihara negara.
saya termasuk yang percaya pada falsafah banyak anak banyak rezeki. tetapi ini berlaku jika variabel bersifat konstan, semua berjalan sebagaimana mestinya. tidak ada unsur pemiskinan, jauh dari sikap kufur nikmat dan khianat terhadap anugerah sang pencipta. karena faktanya banyak orang semakin miskin dengan anaknya yang bejibun. tetapi tak sedikit juga orang kaya yang semakin makmur karena banyak anak juga. mungkin ini berlaku sebaliknya, banyak rezeki banyak anak. saya menyadari banyak yang tak sepakat. tetapi hakekatnya ini bukan untuk diperdebatkan, tetapi dimaknai dengan nurani yang sehat sebagai anugerah yang penuh nikmat.
(anjari umarjianto, http://anjari.blogdetik.com)
Tags: baiti janati, banyak anak banyak rezeki, keluarga bahagia, keluarga besar
![]() |